Bagaimana Generative AI membentuk masa depan kita
Kecerdasan buatan (AI) telah menunjukkan potensi besar dalam membentuk masa depan kita. Bidang kesehatan, keuangan, dan militer telah mulai mengeksplorasi bagaimana AI dapat mengubah cara mereka bekerja. Namun, dampak AI pada dunia kreatif seperti seni dan desain juga menjadi sorotan utama.
Khususnya, generative AI, yang mampu menciptakan konten baru dari data yang ada, menjadi topik hangat. Untuk membahas lebih dalam tentang hal ini, sebuah panel diskusi digelar pada 26 Oktober lalu di MIT Bartos Theater. Acara ini bagian dari pertemuan tahunan Dewan Kesenian MIT (CAMIT) dan didukung oleh Pusat Seni, Sains, dan Teknologi MIT (CAST).
Andrea Volpe, direktur CAMIT, membuka diskusi. Onur Yüce Gün, seorang alumni MIT, menjadi moderator. Panelis terdiri dari Ziv Epstein, seorang seniman dan peneliti sosial, serta Ana Miljački, profesor arsitektur MIT. Mereka juga menghadirkan Alex Reben, seorang seniman dan robotis.
Diskusi ini menjadi platform bagi para ahli untuk berbagi pandangan tentang bagaimana AI akan membentuk masa depan seni dan desain. Dengan kata lain, acara ini menjadi titik temu antara teknologi dan kreativitas, membuka peluang baru serta tantangan yang akan dihadapi oleh para pelaku industri kreatif.
Topik ini menjadi semakin relevan karena semakin banyaknya penggunaan AI dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu, pemahaman tentang potensi dan implikasi AI di dunia seni dan desain menjadi semakin penting.
Diskusi yang digelar di MIT Bartos Theater ini berfokus pada tiga tema utama: kemunculan, perwujudan, dan ekspektasi AI dalam dunia seni dan desain. Para ahli membahas bagaimana AI, khususnya AI generatif, dapat membantu seniman dan desainer mencapai ambiguitas kreatif yang sering menjadi inti dari karya-karya mereka.
Namun, penggunaan AI juga menimbulkan pertanyaan tentang kreativitas, etika, dan dampaknya terhadap karya-karya yang sudah ada. Beberapa ahli berpendapat bahwa AI lebih dari sekadar alat, tetapi juga memiliki agen kreatif sendiri. Ini menimbulkan perdebatan tentang bagaimana AI akan mengubah lanskap seni dan desain di masa depan.
Diskusi berlanjut pada bagaimana manusia berinteraksi dengan teknologi AI, khususnya dalam konteks seni dan desain. Para ahli membahas pentingnya pengalaman sensorik dalam karya seni dan bagaimana AI mampu menciptakan pengalaman multi-dimensi. Namun, pertanyaan tentang kreativitas dan otonomi AI juga menjadi sorotan.
Peserta diskusi juga membahas kekhawatiran tentang potensi bias dalam AI yang dapat memperkuat ketidaksetaraan. Mereka menekankan pentingnya kontrol manusia dalam pengembangan dan penggunaan AI untuk mencegah dampak negatif.
Secara keseluruhan, diskusi ini menyimpulkan bahwa AI memiliki potensi besar untuk mendorong inovasi, namun perlu diimbangi dengan pertimbangan etis dan sosial. Masa depan AI masih penuh ketidakpastian, dan penting untuk terus memantau perkembangannya serta mengarahkannya ke arah yang bermanfaat bagi manusia.

