Kesalahpahaman Brand dan Mitos Pasar: Musuh Abadi Pemilik Usaha

Kesalahpahaman tentunya selalu dapat membawa akibat yang buruk. Sekarang, kita selami villain-villain utama yang bersembunyi di balik bayang- bayang miskonsepsi brand dan mitos pasar.

Yang pertama dalam daftar villain brand kita adalah sindrom “All-Things-To-All-People” yang terkenal kejam. Musuh licik ini membisikkan hal-hal manis di telinga kita, meyakinkan kita bahwa brand kita harus menarik bagi semua orang hingga ke nenek mereka yang masih tinggal di pelosok. Tentu saja, secara teori kedengarannya bagus, tetapi dalam praktiknya, ini akan membuat kita meluncur ke bawah dan membuat semuanya berantakan. Fokus pada niche, dan kita akan menemukan bahwa brand kita menjadi harta karun yang didambakan, bukan peninggalan yang terlupakan di kulkas yang bau.

Berikutnya, kita menghadapi dilema “Harganya Tepat”, di mana pelaku bisnis percaya bahwa memangkas harga adalah tiket emas menuju kesuksesan. Meskipun diskon yang bagus dapat menarik pelanggan lebih cepat dibandingkan warung pada program Jumat berkah, hanya menawarkan harga rendah seperti membangun brand kita di atas pasir hisap. Begitu kita mulai mengabaikan nilai kita, sulit untuk naik kembali. Sebaliknya, tekankan kualitas unik produk atau layanan kita. Ingat, kita tidak hanya menjual produk; kita menjual sebuah cerita—dan sebuah cerita yang diceritakan dengan baik bernilai emas, meskipun tidak disertai stiker diskon 50%.

Lalu ada “Overdosis Media Sosial” yang jahat. Di dunia media sosial, sangat mudah untuk terhanyut oleh daya tarik trend viral yang mencolok. Namun inilah masalahnya: tidak semua trend sejalan dengan narasi brand kita. Mencoba menghadapi setiap gelombang di media sosial seperti mencoba atraksi pedang api sambil mengendarai sepeda roda satu. Kemungkinannya adalah, kita akan menjatuhkan sesuatu yang mengandung risiko. Daripada mengejar setiap trend, pilihlah pertarungan kita dengan bijak. Kembangkan suara yang konsisten yang dapat berbicara kepada audiens kita, dan jangan takut untuk menunjukkan kepribadian unik brand kita. Ingat, ini bukan tentang menjadi yang paling keras bersuara; ini tentang menjadi yang paling otentik.

Terakhir, jangan lupakan kesalahpahaman terkenal “Branding hanyalah Logo”. Villain ini maanipulatif dan sering luput dari perhatian sampai jadi tertinggal. Banyak pemilik usaha berpikir bahwa sekadar menempelkan logo mereka di kartu nama atau profil media sosial sudah cukup untuk membangun identitas brand. Namun logo hanyalah daun bawang di semangkok mie ayam. Narasi brand kita mencakup nilai-nilai, misi, dan hubungan emosional yang kita ciptakan dengan audiens. Jangan biarkan penjahat ini menipu kita dengan berpikir bahwa logo yang cantik adalah segalanya dan akhir segalanya. Ciptakan narasi yang sesuai dengan audiens kita, dan saksikan brand kita bertransformasi dari logo sederhana menjadi kisah hidup yang membuat konsumen ingin ikut serta di dalamnya.

Dalam perjuangan melawan miskonsepsi brand dan mitos pasar, pengetahuan adalah senjata kita yang paling ampuh. Dengan mengenali villain-villain ini dan mempersenjatai diri dengan strategi yang tepat, kita dapat menciptakan narasi brand yang menonjol, menarik perhatian audiens kita, dan, yang paling penting, tidak meninggalkan rasa tidak enak di mulut siapa pun. Rangkullah orisinalitas, fokus pada niche kita, dan ingatlah bahwa kisah brand kita adalah bahan rahasia utama dalam resep kesuksesan kita.

Branding terus menjadi subjek yang sering kali mengundang kesalahpahaman. Punya permasalahan di brand? Hubungi Rushkraft, agensi konsultan brand yang siap membantu perjalanan brand teman-teman dari mulai branding, design, dan promosional!

Baca selengkapnya artikel ini di E-Book GRATIS: Brand Storytelling by Rushkraft.

Semoga bermanfaat!

Leave a comment